GENERASI PENANAM POHON (Opini Koran KR)
Antusiasme
masyarakat dalam kegiatan penghijauan atau menanam pohon semakin hari
semakin meningkat. Fenomena ini terlihat jelas dalam kegiatan
penghijauan kembali pada Gunung Merapi setelah erupsi tahun 2010.
Ratusan ribu bibit telah ditanam, baik di dalam kawasan Taman Nasional
Gunung Merapi (TNGM) maupun di lahan masyarakat yang terkena dampak
erupsi.
Tidak hanya kawasan yang rusak dan tandus yang menjadi sasaran Penanam Pohon, tapi juga perkotaan. Jalan di kota Yogya sekarang lebih rindang karena prestasi dari ‘Wagiman’ (Walikota Gila Tanaman), julukan dari Kang Hery Zudianto. Muncullah Generasi Penanam Pohon di perkotaan. Akankah di tahun 2012 antusiasme ini semakin meningkat?
Tidak hanya kawasan yang rusak dan tandus yang menjadi sasaran Penanam Pohon, tapi juga perkotaan. Jalan di kota Yogya sekarang lebih rindang karena prestasi dari ‘Wagiman’ (Walikota Gila Tanaman), julukan dari Kang Hery Zudianto. Muncullah Generasi Penanam Pohon di perkotaan. Akankah di tahun 2012 antusiasme ini semakin meningkat?
Opini koran kedaulatan Rakyat tanggal 19 Januari 2012
Kisah Si Penanam Pohon
Sanich Iyonni membuat cerita menarik tentang Naruto dan Tenten si Penanam Pohon di kota Konoha. Setelah lama berpisah, Tenten kembali ke Konoha dan menjumpai Naruto masih menjadi penanam pohon setia di Konoha, pada saat orang-orang telah meninggalkan kota itu karena banyak kekacauan yang terjadi di dalamnya. “Lalu apa yang membuatmu bertahan menanam pohon di Konoha ?” tanya Tenten.
"Salah seorang penanam pohon legendaris yang sangat kuhormati pernah berkata, 'Daripada kita mengungsi dari kota yang penuh polusi tanpa berbuat apa-apa, bukankah lebih baik kita menanam satu pohon untuk menghijaukan kota?”, jawab Naruto.
Tenten sangat terkesan dengan perkataan Naruto. Tenten berkata dalam hati, “Aku bertekad untuk terus menanam pohon yang bagus di sini. Tidak masalah kalau pohonku tidak diperhatikan orang atau sedikit berbuah, yang penting aku sudah berbuat sesuatu—walau sangat amat sedikit—untuk menanam pohon yang berkualitas demi mengurangi pemanasan global. Bukankah itu tugasku sebagai penanam pohon profesional?’
Generasi Penanam Pohon Indonesia
Kisah Tenten dan Naruto mengingatkan pada pejuang penghijauan hutan Wanagama di Gunung Kidul. Kawasan ini terkenal dengan sebutan kondisi lahan ‘batu bertanah’, disebabkan banyaknya batu daripada tanah. Pada tahun 1926, hutan-hutan alam di daerah Gunung Kidul telah habis ditebang, selanjutnya tahun 1927 pernah dicoba penanaman jati, namun pada tahun 1948 telah kosong kembali. Percobaan penanaman tahun 1954 - 1958 pun tidak berhasil dengan baik. Pada tahun 1963 mulai ditanami murbai yang direncanakan dicampur dengan pinus.
Pada tahun 1967, Dinas Kehutanan DIY menyerahkan pengelolaan petak 5 seluas 79,9 Ha kepada Fakultas Kehutanan UGM untuk dikelola atau dihutankan kembali, dan diberi nama “Wanagama I”. Generasi Penanam Pohon yakni Ir. Oemi Haniin Suseno, Ir. Soekotjo, Ir. Haryanto, Ir. Tri Setyo, Sartinah, Kasan Budianto, Ir. Soekirno DP, Ir. Moch. Naiem, Ir. Suhardi, Ir. Eko Bhakti Hardiyanto, dan Hendrawati berhasil menghijaukan Wanagama yang tandus.
Pengalaman keberhasilan mengelola Petak 5 mendorong Alm. Ir. Oemi Haniin Suseno, dkk pada 1983 memperluas kawasan hutan Wanagama menjadi 600 Ha. Misi yang diemban Wanagama I adalah mewujudkan Wanagama I sebagai hutan pendidikan dan penelitian; hutan percontohan; wahana penyuluhan; serta sebagai hutan wisata dan wisata ilmiah
Wanagama I berhasil menjadi sebuah research and education forest terbaik di Indonesia. Wanagama sudah dikenal pada skala global. Contohnya, suami Ratu Elizabeth dari negeri Belanda, yakni Pangeran Bernard telah berkunjung ke Wanagama I pada 21 Maret 1996, putera mahkota Kerajaan Inggris, Pangeran Charles meninjau Wanagama pada 5 November 1989, Asisten Director General FAO hadir dan menikmati hasil Generasi Penanam Pohon Indonesia.
Menanam Pohon = Menanam Harapan
Menanam pohon jelas merupakan pekerjaan yang memiliki visi kuat. Pohon tidak akan segera membesar dalam waktu singkat. Memerlukan waktu lama, bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, sampai pohon tersebut tampak besar, dewasa, dan memberikan manfaat. Mungkin manfaat kesejukan mengurangi pemanasan global, mencegah erosi dan banjir, atau karena ada buah yang bisa dimakan, atau karena adanya kayu yang dapat dimanfaatkan.
Sayangnya generasi sekarang telah terlanjur menjadi generasi instan, yang lebih menikmati hasil yang telah disajikan di restoran/supermarket, tanpa perlu menanamnya. Tanpa perlu menunggu proses tumbuh kembang dan berbuahnya. Menanam pohon jelas memerlukan kesabaran, tidak dapat langsung ingin menikmati hasilnya. Kalau kita menanam pohon sekarang, juga tidak akan dapat dinikmati pada usia kita, namun dinikmati oleh anak atau bahkan cucu dan cicit kita. Lalu mengapa harus menanam pohon jika tidak akan kita nikmati hasilnya? Hanya satu jawaban: karena adanya harapan.
Sumber : http://arif-sulfiantono.blogspot.com/

